Sabtu, 02 Maret 2013

Udah Kenal Tetangga Sebelah kah????


Kali ini aku pengen bahas tentang hidup bertetangga. Bahasan seperti ini lebih banyak dianggap remeh sama kebanyakan orang dikarenakan urgensinya yang tidak begitu penting. Sebenarnya anggapan seperti itu sangat tidak tepat. Menjadi tidak menarik untuk dibahas karena di dalam kehidupan perkotaan seperti ini kebanyakan orang lebih memilih untuk bergaya hidup secara individu apalagi orang-orang yang tinggal di daerah kompleks ataupun perumahan-perumahan megah, dijamin deh kenal sama tetangga depan rumah juga enggak, ato bahkan tetangganya kenapa-napa (tiba-tiba meninggal misalnya) juga nggak ngerti. Miris sekali.
Di dalam Al Qur’an hidup bertetangga juga disebutkan, nih...

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…” (Qs. An-Nisa’: 36)

Nah.. itu dia, kita harus berbuat baik kepada tetangga. Gimana mau berbuat baik kalo misal kenal tetangga aja enggak. Pernah di suatu majelis aku dan beberapa teman ditugaskan untuk berinteraksi dan silaturahmi kepada empat tetangga depan, empat dari sebelah kiri dan empat tetangga sebelah kanan dari rumah. Waww.. buat aku itu hal yang sangat menarik, kita harus mengenal dan berinteraksi dengan tetangga-tetangga kita dari segala sisi. Tapi entah kenapa itu merupakan hal yang cukup sulit untuk teman-temanku yang lainnya. Mungkin karena mereka kebanyakan mahasiswa kost-an yang memang tidak mengenal tetangga-tetangga sebelahnya. Ups. Ayolah teman, kenalan sama sebelah rumah... hihihihi :P

Ngomong- ngomong berbuat baik kepada tetangga, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan hal tersebut. Misalkan saja ketika kita masak (bagi yang hobi banget masak),jangan lupa dibagi buat tetangga sebelah. Percaya deh sedikit apapun kita ngasih tetangga kita,mereka bakalan seneng banget karena disamperin tetangga di kasih makanan pula. Apalagi, waktu kita masak aromanya nyampe ke hidung tetangga...wah wah wah...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan...

“Wahai sekalian wanita muslimah, tidak diperbolehkan seorang tetangga menganggap remeh pemberian yang dia berikan kepada tetangganya. meskipun hanya sedikit.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ada lagi nih...

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Apabila engkau memasak sayur berdaging, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah anggota keluarga tetanggamu, lalu berilah mereka dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)

Kenapa jadi bahas makanan juga ya ini, hihihi.... tapi emang bener deh, hal kecil seperti makanan pun juga bisa mengeratkan hubungan silaturahim dengan tetangga. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah beriman kepadaku seorang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya menderita kelaparan, sementara dia mengetahui.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar).

Dari hadist diatas aku bisa mengambil kesimpulan bahwa dari hal-hal kecil yang biasa luput dari anggapan kita ini ternyata begitu berperan penting dalam kehidupan sesuai yang diajarkan. Kita turut bertanggung jawab atas apa yang menimpa tetangga kita karena harusnya mereka bisa jadi lebih dekat dari pada saudara senasab (sekandung) kita yang tinggal berjauhan dari kita misalnya.

Tersadang kita agak bingung mau memulai berinteraksi dengan tetangga, mungkin dikarenakan emang nggak ada yang berani ngomong duluan... yang memulai yang lebih baik dong... bisa kita mulai dengan menyapa setiap berjumpa, mengucap salam, tersenyum,dst. Yakin aja deh, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan jika dari hati kita dengan tulus ikhlas melakukannya, maka itu akan Allah hitung suatu kebaikan. Bisa jadi, hal sederhana seperti senyuman pun bisa berkesan buat tetangga kita...

“Dan barangsiapa berbuat kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (Qs. Az-Zalzalah: 8)

Jadi, yuk kita berbuat baik kepada tetangga kita. Kira-kira udah kenal tetangga sebelah belum ya????? Kalo belum, buruan ajakin kenalan.. huehuehuuuu... ^_^





Jumat, 01 Maret 2013

Memasak itu (Bakat) Terpendam

Dulu, saat pertama kali lulus SMP, aku meminta ibu untuk didaftarkan ke salah satu SMK jurusan tata boga di Surabaya, tentu saja ini karena keinginan besarku untuk meningkatkan kemampuan memasak  (beneran hobby masak banget). Dan, mengejutkan jawaban ibu ketika itu, " mau jadi apa kamu kalo masuk sekolah tata boga? mau jaga warung setelah lulus?" itu beneran jawaban to the jleb yang pernah aku dengar. ya kenapa harus sekolah lama-lama kalo cuma jaga warung?? asli gondok banget ketika itu sama ibu, dengan agak terpaksa aku memilih sekolah dgn majorying Administrasi Perkantoran.

Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan untuk ukuran anak yang dengan keinginan setengah-setengah untuk sekolah di sana. Benar saja, karena setelahnya aku sama sekali tidak berminat untuk bekerja ataupun kuliah di bidang administrasi perkantoran. aku memutuskan untuk mengambil pendidikan Bahasa Inggris untuk major kuliahku. hehe *walau tetep, masih tidak ada hubungannya dengan memasak*. Saat kamu membaca tulisan ini, aku sedang di semester 8 kuliahku... yey... bentar lagi lulus. aamiin.

Entah kenapa, di sepanjang masa perkuliahanku ini aku makin gemar banget masak, khususnya untuk membuat bermacam-macam cake yang lagi in. mungkin ini salah satu hobby yang benar-benar tidak tersalurkan sejak lama. Ataukah ini bakat terpendamku??? *jreng...jreng...* tidak mudah untuk menyalurkan bakat yang satu ini, karena aku hanya bermodal nekat dan siap-siap mendengar omelan ibu selama aku bereksperimen di dapur.

untuk memperkaya pengetahuanku tentang memasak, aku selalu rutin lihat acara-acara memasak di tv yang mulai bermunculan, salah satunya ala chef Farah Quinn yang tayang setiap weekend. setiap acara farah selesai, aku hampir selalu mempraktekannya langsung.

Dan inilah hasil dari aku ngelihat acara Farah Quinn.  Cake yang lagi in beberapa waktu terakhir ini. Rainbow Cake.

cake ini aku buat di kost-an teman beberapa minggu lalu, hehe



ini nih tampilan cake-nya dengan ukuran penuh. *jangan liat orangnya dan beberapa barang yang ada di ujung sana ya.. (jangan tanya juga kenapa barang-barang itu ada di sana)*

it's so much fun nyobain beberapa resep masakan di manapun, salah satunya di kost-an teman seperti di atas.

semoga someday aku beneran bisa menekuni bidang masak memasak begini. dan untuk saat ini, biarkan waktu berjalan membawaku entah kemana. yang pasti so far aku masih menikmati berada di jalur Bahasa Inggris... :-)

Kamis, 28 Februari 2013

Jadi Diri Sendiri dengan Jilbab Syar'i



Ehem.. beneran nih q mau nulis di blog ini.. semoga ada yang bisa di ambil manfaatnya dengan membaca tulisanku yang beneran karya tulis amatiran di dunia per-blog-an di indonesia. heuheu...

Sekitar satu tahun yang lalu di kampus, yang ketika itu masih berkecimpung sebagai salah satu aktivis da’wah kampus (mengindikasikan kalo sekarang tidak lagi, hehe hiks’), aku baru ngeh kalo sedang diliatin sama adek kelasku yang kebetulan masih berstatus anggota baru di organisasi. Bertanya-tanya nih anak kenapa ngeliatin segitunya, apa ada yang salah ya dengan penampilanku. Nggak nunggu lama aku langsung tanyain dia kenapa ngeliatin aku khitmat banget gitu.

Nggak pernah kepikiran sebelumnya ternyata dia bilang gini, “mbak... kenapa mbak ini ndak kaya’ mbak-mbak yang lainnya di sini ya, mbak itu ceria, PeDe, ceriwis gitu nggak kaya’ mbak-mbak akhwat lainnya, tapi kok bisa tetep jadi akhwat.  Aku pengen kaya’ mbak ya suatu hari nanti.”
 
Nah lho??? Ada yang pengen jadi saudara kembar saya ini. Hehe.. eniwei, bagi temen-temen yang belum tahu makhluk apa itu yang disebut akhwat. Sebenernya akhwat itu kata yang diambil dari bahasa arab, bentuk jamak dari ‘ukhti’ yang kurang lebih artinya ‘saudara perempuan’, bisalah di artikan dengan kata ‘sista’ dari kata ‘sister’ dalam bahasa inggris. Hanya saja kata ‘akhwat’ biasa di pake sama anak-anak aktivis da’wah di kampus ato rohis di sekolah, sehingga mengalami penyempitan makna, anggapannya kalo akhwat ya berarti anak rohis, anak alim di kampus. Padahal ya sama aja kalo mau pake makna yang secara umum. akhwat ya sisters.

 Kembali ke anak tadi. Seketika itu aku diem aja dengerin statementnya dia sambil senyum. Senyumku itu bukan senyum biasa lho, tapi senyum yang penuh makna karena aku ngerti apa yang dia maksudkan dan apa yang dia harapkan atas dirinya suatu hari nanti. Sama seperti yang aku rasakan dulu pertama kali saat aku memutuskan memakai jilbab yang lebih lebar dari sebelumnya. 

Alhamdulillah tanpa ada paksaan dari siapapun untuk mengambil keputusan besar ini. Yang ada malah  banyak protes dari keluarga yang melihat aku tiba-tiba berpenampilan beda. Sedih sebenernya kena marah mulu, tapi lama kelamaan dibawa nyantai aja, karena menjadi penggenggam bara api itu memang tidak mudah. *tsaaahhh...  hehe 

Dari Anas bin Malik r.a., dia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya ibaratnya seperti orang yang memegang bara api”. (H.R. At-Tirmidzi).

Dari apa yang disampaikan adek kelasku tadi, aku mau berbagi kebahagiaan dengan muslimah-muslimah lainnya yang di sana (yang lagi baca tulisan ini) bahwa untuk menjadi muslimah yang berpenampilan syar’i itu tidak harus menjadi orang lain, tetaplah menjadi diri sendiri. Tiap orang kan memiliki kepribadian yang berbeda-beda, which is, semua itu gak ada yang salah, justru istimewa. Kalo kamu memang orangnya ceriwis abis, ya udah, tetep aja gitu asal kita sendiri mampu mengontrol apa yang kita ucapkan. Dengan keceriwisan kita itu mampu memberikan manfaat buat orang lain. Kan sebaik-baik orang itu yang bermanfaat buat sesamanya.. ya nggak sih... ^_^

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Berani beda itu baik.. hehe.. gak usah berkecil hati karena anggapan kalo perempuan berjilbab lebar itu harus lemah lembut, suara kalem, harus cantik,dst. Sewajarnya saja, gimana-gimana juga kan yang berlebihan itu nggak baik. Tetap berpakaian syar’i dengan pribadi yang baik layaknya kamu sebelumnya, dan selalu berupaya menjadi lebih baik di setiap detik kita. Asal jangan pernah melupakan batasan-batasan yang ada sesuai apa yang teladan kita lakukan dan ucapkan; Nabi Muhammad Saw.  


Rabu, 26 Desember 2012

Masih Sanggupkah... #SewinduTsunamiAceh

Masih sanggupkah engkau mendengkur

Di atas ranjang para raja saat ini

Sementara seorang ibu sedang mengais reruntuhan mencari anaknya yang bayi di malam gelap



Masih sanggupkah engkau menikmati

Candlelight dinner di sudut restoran yang mahal

Sementara seorang anak menggigil

Kelaparan di tengah bau amis darah kering

Di harapan yang gagal

Masih sanggupkah engkau melaju di jalan raya

Dengan mobil mewahmu

Sementara tak satu mobil pun

Dampat sampai ke tempat pengungsian mengantar makanan



Masih sanggupkan engkau memandang

Tumpukan bajumu di lemari sementara seorang ibu tertimpa malu tak berbaju di ujung Aceh yang pilu



Masih sanggupkah engkau

Menimang-nimang emas berlian yang menyilaukan

Sementara seorang bapak

Menimang-nimang bayinya yang tanpa nyawa di tengah tanah derita



Masih sanggupkah engkau

Membuka champagne dan menghitung mundur

Sampai pada titik nol di perayaan tahun baru 2005 sementara di serambi Mekkah

Semua manusia berada jauh dari titik nol kelayakan



Ya... masih sanggupkah engkau

Berpesta merayakan bencana di ujung warsa



Yaa.... Yaa....



Jakarta, 29 Desember 2004



By : Ratih Sanggarwary



* Di ambil dari buku "Kumpulan Puisi Namaku Perempuan"

#SewinduTsunamiAceh

Minggu, 16 Desember 2012

Fatima Nama Anakku

Sebuah puisi dari Ratih Sanggarwaty mengawali...
Tentang sebuah nama, Fatimah...

=

Aku namakan anakku Fatima...
Agar dia bisa seperti Fatima Az Zahra putri Rasulullah 

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia dapat menjadi pintu surgaku kelak

Aku namakan Anakku Fatima
Agar dia dapat menjadi pelipur lara ayahnya

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia memikirkan kesulitan orang lain diatas kesulitan sendiri

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia selalu mendo’akan orang lain lebih dahulu sebelum mendo’akan keluarganya dan dirinya sendiri

Aku namakan anakku Fatima
Agar dia tidak bermewah-mewah di tengah sekelilingnya yang miskin papa 

Barangkali harapanku terlalu muluk-muluk
Dan aku berkaca terhadap diriku sendiri
Sudahkah aku sebagai ibunya bersikap seperti Sayidah Khodijah
Yang membenamkan dirinya hanya pada cintanya pada Allah
 
Sudahkah aku sebagai ibunya bersikap seperti Sayidah Khodijah
Yang mengorbankan hartanya untuk membesarkan kebenaran agama Allah

Atau kalau aku tak punya harta seperti Sayidah Khodijah
Sudahkah aku bersikap seperti Sayidah Fatima
Yang selalu merindukan berkasih-kasihan dengan Allah Sang Penciptaku
Yang Setiap malam mendo’akan orang lain terlebih dahulu
Sudahkah aku bersikap seperti Sayidah Fatima
Yang memikirkan kesulitan orang lain meski hidupku sendiri dalam kesulitan
Yang tidak bermewah di tengah orang-orang yang miskin papa

Dan...
Sudahkah aku menghibur lara ayahku ketika ayahku masih hidup
Sudahkah aku bersedekah atas namanya agar penderitaannya dalam kubur terhapus

Ya Allah... Jadikan aku sebagai pelipur lara kuburnya
Ya Allah... Jadikan aku sebagai jubah ayahku untuk melindunginya dari api neraka
Ya Allah... Jadikan aku jembatan dari pintu surga ayahku
Ya Allah... Jadikah aku sebagai Fatima ayahku

Amin... Amin... Amin... Ya Robbal aalamin.

GA 2002 Jakarta-Jogya
3 Februari 2003


- diambil dari buku "Kumpulan Puisi Namaku Perempuan"-